Friday, October 28, 2016

FDP lagi.. lagi FDP..

*untuk pelestarian Danau Poso dan Pembangunan Poso atau hanya sekedar rutinitas tontonan belaka ??

Masih dalam pengaruh rasa kantuk siang bolong, samar-samar saya mendengar mobil bersound speaker besar melewati rumah dengan penggalan kalimat “dalam rangka perayaan Festival Danau Poso (FDP) diharapkan kepada seluruh warga masyarakat Tentena dan sekitarnya untuk memasang umbul-umbul di depan rumah dari tanggal 26 okt-6 november 2016” kira-kira begitu isi pesan suara yang disampaikan berkeliling oleh petugas yang berada dalam mobil tersebut.

Saya pun bergumam, FDP lagi… rutin setiap tahun digelar acara ini meskipun ulasannya tidak makin membaik, tapi tak mengapa untuk tetap optimis hhhmmm….

Karena penasaran, saya coba menelusuri dunia maya ingin tahu lebih banyak seheboh apa pemberitaan ataupun sambutan masyarakat dunia maya terkait rencana gelaran festival ini. Sebab pikir saya, jika di dunia nyata biasa biasa saja, di dunia maya bisa jadi luar biasa. Tidak seperti dugaan saya, tak ada yang istimewa hanya ada satu link berita surat kabar online dan beberapa cuplikan berulang pada surat kabar nasional terkait pemberitaan tahun tahun sebelumnya. Lumayanlah daripada tidak sama sekali, pikir saya menghibur diri. Sayapun bergeser ke media sosial masih dengan rasa penasaran tadi dan cukup melegakan melihat antusias beberapa kawan, sodara dan sahabat terkait gelaran ini karena terlibat langsung atau sebatas merasa jadi ‘host’ tidak langsung dari agenda tahunan pemerintah daerah ini.

Malam harinya, ketika nongkrong di teras rumah saya melihat perahu nelayan ‘toponyilo’ melintas menantang dingin malam untuk berburu sogili atau ikan mas Danau Poso. Pemandangan ini menyentak saya tentang beberapa kearifan lokal, tradisi dan lokasi lokasi pusat kebudayaan yang ada di sekitar Danau Poso yang harusnya dilestarikan melalui ajang bergengsi seperti Festival Danau Poso yang justru jauh lebih penting dari pemilihan putra putri pariwisata atau konser musik dengan artis wow saja seperti yang sudah-sudah selama ini.

Sayapun coba mengingat beberapa lokasi seperti Goa Pamona, Watumpangasa Angga, Taman Anggrek Alam Bancea, Watu Rumongi, yang kondisinya makin memprihatinkan tanpa perawatan sementara selalu saja dipromosikan dan di ajak orang-orang untuk datang melihat atau mengunjungi. Tidak usah jauh-jauh lokasi khusus untuk pagelaran acara festival danau poso kini lebih layak menjadi pajangan saja ketimbang difungsikan sebagaimana seharusnya.  Semua itu adalah ikon daerah yang bisa menjadi kebanggaan atau identitas karena nilai sejarah dan budayanya, karena tak terawatt, terabaikan lambat laun akan hilang dan hanya tinggal cerita suatu hari nanti.


Saya sebagai warga Tentena, kabupaten Poso yang bangga akan daerah ini tidak pesimis dengan gelaran festival danau poso yang akan dilaksananakan pekan depan oleh pemerintah daerah, tetapi saya mencoba berbagi kegelisahaan tentang arah pembangunan daerah ini dan upaya mempertahankan eksistensinya saat sedang berbenah diri. Acara mewah dan meriah tidak menjamin kualitas dari sebuah acara jika targetnya sebatas momentum saja, namun jika ingin target pembangunan daerah dengan mengedepankan pelestarian danau poso melalui perbaikan sektor pariwisata tidak ada salahnya ‘mengemas ulang’ gelaran Festival Danau Poso yang lebih ‘menghidupkan’ Danau Poso juga masyarakat di sekitarnya tidak hanya sekali setahun tetapi berkelanjutan.