Monday, March 26, 2018

'Bola Liar' Politik Rencana Make Over Yondompamona


*Wilianita Selviana

Jembatan Tua Pamona atau dalam bahasa lokalnya yondompamona hampir 2bulan ini memang sedang menjadi topik hangat perbincangan to poso 'orang poso' di medsos, warung kopi bahkan di komunitas-komunitas muda yang merasa resah dan peduli dengan rencana pemerintah kabupaten Poso yang akan melakukan 'make over' atau melakukan perbaikan dengan 'sedikit' perubahan pada jembatan tua pamona yang merupakan saksi sejarah budaya tana poso.

Rencana ini sebenarnya sudah ada sejak 2016 lalu dan sudah dilakukan sosialisasi 'terbatas' pada tahun 2017. Kembali menghangat tahun ini ketika banyak pihak mengemukakan keberatannya karena arus informasi yang tidak berimbang atau sepenggal-sepenggal terkait hal ini.

Menjadi lebih menarik kemudian ketika beberapa kontestan pemilu atau bisa juga disebut para politisi ikut terlibat beradu argumen terkait rencana proyek ini. Lalu yang lain mulai melihat bahwa berbagai pendapat tersebut sarat kepentingan karena momentnya pas di tahun ini, tahun menuju suksesi 2019 dan 2020.  Wajar jika hal ini disebut-sebut 'bola liar' siapa saja punya peluang menjadi penendangnya.

Hanya saja tidak elok rasanya jika rakyat atau masyarakat tidak diberi ruang, seolah ini hanya permainan bagi para 'petinggi' saja warga hanya jadi penonton dan pasrah dengan hasil akhir dari proses perebutan 'bola liar' ini.

Kehadiran sebuah Front yang diinisiasi dari masyarakat merespon rencana proyek ini menjadikan perebutan bola liar ini semakin seru. Banyak spekulan mulai menduga-duga hingga berasumsi front ini merupakan bagian dari upaya 'pelemahan' pemerintahan DAS (Darmin Agustinus Sigilipu) Bupati Poso yang terpilih tahun 2015 lalu, sebab rencana make over Yondompamona merupakan ide dari pemerintahan saat ini. Dengan dalih pengembangan pariwisata, Pemerintah Daerah Kabupaten Poso menyetujui 'kolaborasi' bersama PT. Poso Energi yang akan melaksanakan proyek Poso River Improvement (PRI) --> penataan sungai di lokasi yang sama yaitu hulu sungai Poso (danau Poso).

Perdebatan dampak sosial, budaya dan lingkungan yang akan timbul akibat proyek kolaborasi ini, menjadikan 'bola liar' makin berbobot dan seksi diperebutkan. Lagi-lagi di bawah ke ranah Politik, soal mendukung dan tidak mendukung kebijakan pembangunan oleh pemerintah. Front yang hadir mencoba memberi informasi yang berimbang kepada masyarakat justru 'dituduh' sebagai tunggangan politik kelompok tertentu.

Memang kemudian, banyak pihak menjadikan polemik ini sebagai panggung politik merebut simpati masyarakat namun jangan sampai keinginan besar masyarakat sekitar lokasi rencana proyek kolaborasi tersebut menjadi samar-samar apalagi hingga tertutupi hanya karena sepak terjang berbagai 'bendera' kontestan pemilu yang mencari peluang menggiring 'bola liar' ini untuk pundi-pundi kesuksesan 2019 yang akan datang.

Bola liar ini boleh saja terus diperebutkan tapi suara-suara pilu masyarakat jangan di kesampingkan, agar pemilu kali ini juga membawa perubahan baik yang berarti bagi daerah ini. Selain itu, masyarakat kabupaten Poso juga harus tercerdaskan dalam proses politik yang terjadi saat ini, agar kemudian tidak melulu menjadi objek politik yang hanya kebagian peran di bilik suara pada hari pencoblosan.

Begitupun dengan suara-suara kritis yang lahir dari masyarakat harus disyukuri dan dipahami sebagai bagian dari proses berdemokrasi yang sehat bukan justru dicemooh atau berusaha dibungkam tanpa mencoba memahami maksud dari kata-kata yang disampaikan.

Biarlah Yondompamona yang jadi bola liarnya, jangan masyarakat kabupaten Poso. Berpolitik yang santun, jujur, adil dan transparan itu memuliakan masyarakatnya bukan memanipulasi masyarakatnya. **

*penulis adalah warga Tentena kab. Poso

Friday, October 28, 2016

FDP lagi.. lagi FDP..

*untuk pelestarian Danau Poso dan Pembangunan Poso atau hanya sekedar rutinitas tontonan belaka ??

Masih dalam pengaruh rasa kantuk siang bolong, samar-samar saya mendengar mobil bersound speaker besar melewati rumah dengan penggalan kalimat “dalam rangka perayaan Festival Danau Poso (FDP) diharapkan kepada seluruh warga masyarakat Tentena dan sekitarnya untuk memasang umbul-umbul di depan rumah dari tanggal 26 okt-6 november 2016” kira-kira begitu isi pesan suara yang disampaikan berkeliling oleh petugas yang berada dalam mobil tersebut.

Saya pun bergumam, FDP lagi… rutin setiap tahun digelar acara ini meskipun ulasannya tidak makin membaik, tapi tak mengapa untuk tetap optimis hhhmmm….

Karena penasaran, saya coba menelusuri dunia maya ingin tahu lebih banyak seheboh apa pemberitaan ataupun sambutan masyarakat dunia maya terkait rencana gelaran festival ini. Sebab pikir saya, jika di dunia nyata biasa biasa saja, di dunia maya bisa jadi luar biasa. Tidak seperti dugaan saya, tak ada yang istimewa hanya ada satu link berita surat kabar online dan beberapa cuplikan berulang pada surat kabar nasional terkait pemberitaan tahun tahun sebelumnya. Lumayanlah daripada tidak sama sekali, pikir saya menghibur diri. Sayapun bergeser ke media sosial masih dengan rasa penasaran tadi dan cukup melegakan melihat antusias beberapa kawan, sodara dan sahabat terkait gelaran ini karena terlibat langsung atau sebatas merasa jadi ‘host’ tidak langsung dari agenda tahunan pemerintah daerah ini.

Malam harinya, ketika nongkrong di teras rumah saya melihat perahu nelayan ‘toponyilo’ melintas menantang dingin malam untuk berburu sogili atau ikan mas Danau Poso. Pemandangan ini menyentak saya tentang beberapa kearifan lokal, tradisi dan lokasi lokasi pusat kebudayaan yang ada di sekitar Danau Poso yang harusnya dilestarikan melalui ajang bergengsi seperti Festival Danau Poso yang justru jauh lebih penting dari pemilihan putra putri pariwisata atau konser musik dengan artis wow saja seperti yang sudah-sudah selama ini.

Sayapun coba mengingat beberapa lokasi seperti Goa Pamona, Watumpangasa Angga, Taman Anggrek Alam Bancea, Watu Rumongi, yang kondisinya makin memprihatinkan tanpa perawatan sementara selalu saja dipromosikan dan di ajak orang-orang untuk datang melihat atau mengunjungi. Tidak usah jauh-jauh lokasi khusus untuk pagelaran acara festival danau poso kini lebih layak menjadi pajangan saja ketimbang difungsikan sebagaimana seharusnya.  Semua itu adalah ikon daerah yang bisa menjadi kebanggaan atau identitas karena nilai sejarah dan budayanya, karena tak terawatt, terabaikan lambat laun akan hilang dan hanya tinggal cerita suatu hari nanti.


Saya sebagai warga Tentena, kabupaten Poso yang bangga akan daerah ini tidak pesimis dengan gelaran festival danau poso yang akan dilaksananakan pekan depan oleh pemerintah daerah, tetapi saya mencoba berbagi kegelisahaan tentang arah pembangunan daerah ini dan upaya mempertahankan eksistensinya saat sedang berbenah diri. Acara mewah dan meriah tidak menjamin kualitas dari sebuah acara jika targetnya sebatas momentum saja, namun jika ingin target pembangunan daerah dengan mengedepankan pelestarian danau poso melalui perbaikan sektor pariwisata tidak ada salahnya ‘mengemas ulang’ gelaran Festival Danau Poso yang lebih ‘menghidupkan’ Danau Poso juga masyarakat di sekitarnya tidak hanya sekali setahun tetapi berkelanjutan. 

Friday, September 16, 2016

Ketika pagi menyapa...


Rasanya damai ketika pagi menyapa..

Mentari masih belum menampakan dirinya sepagi ini, mungkin juga masih enggan menyapa pagi karena semalam purnama begitu manis membuai banyak orang dalam lelap dan mimpi jadi dirinya cukup maklum untuk tidak hadir sepagi mungkin... hhhmmm.. itu kesimpulan sederhanaku juga kesimpulan lebayku sebagai seorang ibu rumah tangga penyuka romantisme bulan, matahari dan pagi yang selalu terjaga sepagi mungkin karena si adek yang minta susu agar bisa melanjutkan mimpi indahnya dan si kakak yang harus bersiap ke sekolah menuntut ilmu agar kelak bisa berguna bagi keluarga, nusa dan bangsa 😉

Ketika pagi menyapa, kurang lebih seperti itu rutinitas pagiku sembari menikmati indahnya pagi di tepian Danau Poso yang begitu sejuk dan menyegarkan hingga selalu menampar sisa sisa kantuk yang masih menggerayangi sadarku...
 
Rutinitas ibu rumah tangga bagi sebagian perempuan modern saat ini,  terlalu melelahkan hingga terkadang menjadi ‘trauma’ bagi kebanyakan perempuan  terutama bagi perempuan yang memiliki karier cemerlang di luar rumah. Harus membagi waktu sebaik mungkin atau harus memilih mengorbankan salah satunya.. pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan seperti itu. Ya bagi kebanyakan apalagi perempuan menjadi seorang ibu rumah tangga adalah lompatan terendah di kelasnya, dan bukanlah sebuah karier yang menjanjikan. Anggapan itu juga yang aku yakini ketika merelakan pekerjaan dan memilih untuk di rumah mengerjakan urusan urusan domestik kerumah tanggaan. 

Ketiga pagi menyapa beberapa tahun yang aku lewati dengan rutinitas pagi yang sudah hapal luar kepala, anggapan itu memudar bahkan hampir sirna. Menjadi seorang ibu rumah tangga dan tidak memiliki karier cemerlang di luar sana tidaklah begitu memprihatinkan, sudut pandangku mulai bergeser positif seiring berlalunya waktu. Keluargaku harmonis, nyaman dan bahagia. Buah hatiku tumbuh sehat, cerdas dan berkecukupan kasih sayang. Ekonomi keluarga tidak pernah sampai pada kondisi krisis moneter, masih bisa menikmati ini dan itu. 

Tak ada yang harus aku sesalkan atau gumuli ketika mengambil keputusan terekstrim untuk ‘berkarir’ di dalam rumah. 

Dan ketika pagi menyapa lagi, aku selau bersyukur untuk banyak hal baik yang terjadi dalam hidupku.. 👼 terima kasih Tuhan karena bukan hanya pagiku yang indah tapi juga hidupku😘

*catatan manis seorang ibu rumah tangga 😉💕 17/09/2016

Monday, June 27, 2016

Terima kasih Tuhan.. pagiku Indah 😇

Sepagi ini terjaga oleh dinginnya hawa tepian Danau Poso..
berlapis lapis selimut tebal tak mempan menghalau dingin ini..
mentaripun seolah olah kompak menyembul malu malu di timur sana..
hhhmmm...
Penghujung Juni yang galau.. segalau cuacanya
Si Biru sudah pula terjaga mungkin sudah terbiasa bangun pagi atau dia mulai membiasakan diri karena sebentar lagi pakai seragam putih merah yang wajib pagi pagi
Si Bumi baru saja terbangun dengan langkah sempoyongan menuju arahku..lalu memelukku dan menciumiku... hhmmm aku menyapanya 'good morning'
Oh Tuhan.. terimakasih pagiku Indah dan setiap pagi selalu indah ... 😍😘
Selamat selasa moms... say... kawans... tetep semangatt yaa💪 hempas hempas semua galau yang coba coba mampir setiap hari.. 😆😊

INGIN

Sampai detik ini ketika gerimis masih saja betah meninabobokan orang orang kesayanganku..
keinginan menulis itu masih sebatas niat, 
sangat ingin sampai susah tidur berkali kali, berhari-hari, bahkan bermalam-malam
tapi tetap saja hanya sampai di 'ingin' 
banyak yang ingin kuceritakan, 
banyak yang ingin kukeluhkesahkan, banyak yang ingin kupamerkan, kubagikan tapi entah memulainya darimana..
Aku sadar sesadar-sadarnya..jika menulis itu pasti menyenangkan dan menenangkan..
Bahkan bisa menjauhkan diri dari segala kegalauan.. 
hhhmm tapi memulainya darimana.. rasanya sesak ketika 'ingin' itu hanya sebatas niat tak mampu mewujudkannya.. 
rasanya tak nyaman ketika di otak itu carut marut ga jelas apalagi sampai susah 'connect' sama hati... 
sepi.. padahal nyatanya bising, 
sedih.. padahal rasanya hepi, 
selalu saja kurang 'sesuatu' atau 'tidak lengkap' 
Makin bingung, disorientasi, unconfidence, entah apalagi yang kurasakan.. 
Setiap hari mencoba merangkai satu kalimat, 
menuangkan unek unek ini dalam tulisan..
tapi lebih mudah rasanya memaksakan bangun pagi meskipun begadang semalaman...  
Semoga curcol ini bisa sedikit membantu.. untuk saat ini hanya bisa menulis segini saja.. setidaknya niat itu tidak lagi sebatas 'ingin' 😆

Friday, October 25, 2013

Danau Poso dan Kongkalikong “Tuan Tanah”




*Oleh : Wilianita Selviana
 


Menikmati pagi di tepian danau Poso begitu damai dan penuh energi positif hingga setiap orang yang berada di sekitarnya pasti akan dipapar energi ini. Sore haripun sama, ketika sang surya perlahan menghilang, pemandangan menakjubkan di tepian Danau Poso begitu menggugah rasa syukur pada Yang Kuasa atas anugerah yang luar biasa ini.

Begitu memikatnya pesona Danau Poso, hingga para pegiat aktivitas outdoor ataupun penggemar traveling menentukan Danau Poso sebagai salah satu lokasi tujuan yang wajib untuk dikunjungi. Rupanya daya pikat Danau Poso bukan hanya memikat para petualang dan traveler saja, tetapi juga para pebisnis bahkan pejabat yang meliriknya dari sisi potensi ekonomi.

Memang sangat menjanjikan jika pariwisata Danau Poso dikelola dan dikembangkan secara serius oleh pemerintah daerah baik Propinsi maupun Kabupaten. Namun sepuluh tahun terakhir rupanya upaya ini memang tidak diseriusi bahkan terkesan terjadi pembiaran, terbukti dengan semrawutnya wilayah pesisir Danau Poso juga sarana dan prasarana yang tersedia. Sementara pihak swasta begitu leluasa mengkapling-kapling lokasi strategis di seputaran Danau Poso untuk pengembangan bisnisnya atau sekedar investasi asset semata. 

Rupanya praktek-praktek penguasaan lahan oleh pihak swasta yang melibatkan oknum pejabat di daerah ini sudah berlangsung cukup lama namun baru mencuat ke permukaan ketika proses Pembangunan Dermaga ASDP Tentena dipermasalahkan. Lokasi pembangunan dermaga tersebut ternyata adalah hibah dari pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah kepada pemerintah Kabupaten Poso pada tahun 2010 yang lalu namun kemudian dalam proses pembangunannya, lokasi tersebut dipindahkan ke lokasi lain yang sudah dipertukargulingkan dengan alasan kelayakan berdasarkan pertimbangan teknis. Dalam prosesnya kemudian, dermaga ini dibangun sangat dekat dengan lokasi situs Watu Mpangasa Angga yang selama ini menjadi salah satu daya tarik objek wisata di Danau Poso. Selain itu, lokasi ini merupakan habitat asli ikan-ikan endemik Danau Poso  seperti rono (Egg carrying buntingi) dan bungu (Weberogobius amadi) yang saat ini mulai terancam keberadaannya. Bagi para nelayan, tak jauh dari situ adalah lokasi pemancingan strategis dimana mereka menggantungkan hidupnya sehari-hari. Terbayang kemudian ancaman kedepan ketika dermaga ASDP tersebut selesai dibangun dan beroperasi. 

Masalah pembangunan dermaga ini rupanya tidak hanya itu saja, lokasi awal yang merupakan hibah ini dipermasalahkan oleh pemerintah propinsi karena pemanfaatannya tidak sesuai dengan peruntukannya. Pada pertemuan multistakeholder yang digelar di Hotel Pamona Indah Tentena pada tgl. 24 Oktober 2013 yang lalu, ada sejumlah faktayang terungkap bahwa di lokasi awal perencanaan pembangunan dermaga ini telah berlangsung aktivitas pembangunan oleh pihak lain (baca : bukan pemkab) jauh sebelum ada usulan dari pemerintah kabupaten Poso kepada pemerintah Propinsi agar menghibahkan lokasi tersebut untuk pembangunan dermaga demi kepentingan masyarakat di wilayah sekitar Danau Poso. Lokasi ini kemudian dipagari serta digembok dengan alasan telah berganti kepemilikan. Sementara pada saat proses peralihan asset pemerintah propinsi ke pemerintah kabupaten, pemerintah kabupaten tidak langsung mencatatkan asset tersebut dalam buku register asset daerah. Fakta-fakta inilah yang menimbulkan sejumlah dugaan bahwa kongkalikong para “tuan tanah” yang adalah oknum-oknum pejabat daerah ini, terindikasi melakukan kesengajaan bahkan pembiaran dalam proses peralihan maupun penguasaan asset daerah untuk tujuan pengaburan asset di masa mendatang, agar ketika asset tersebut diinventarisir kembali bisa dilaporkan keberadaannya tidak diketahui lagi alias hilang. 

Kekhawatiran lainpun muncul, ketika saat ini sedang berlangsung sebuah event daerah yaitu Festival Danau Poso (FDP) ke XVI pada tgl. 25-27 Oktober 2013. Selama beberapa tahun terakhir festival ini tak lagi menarik dan seperti kehilangan spirit budaya yang sesungguhnya. Baik pemerintah propinsi maupun kabupaten sering saling tuding ketika output dari kegiatan ini mengecewakan. Salah satu alasannya adalah masalah kewengangan yang masih terpusat pada pemerintah propinsi sehingga pemerintah kabupaten kurang bisa leluasa berkreativitas dalam event ini, hingga mencuat gagasan sebaiknya event ini beserta lokasinya dihibahkan sepenuhnya kepada pemerintah kabupaten. Namun adakah jaminan keberhasilan jika benar-benar dalam kewenangan penuh pemerintah kabupaten atau justru menjadi modus baru kongkalikong penghilangan asset daerah seperti kasus yang sudah terjadi.
Kasus Kongkalikong ini sangat memungkinkan banyak celah bagi para “tuan tanah” untuk menguasai serta memperdagangkan asset daerah dalam hal ini tanah atau lokasi di seputaran wilayah Danau Poso semata-mata untuk kepentingan pribadi mereka atau kelompoknya dengan menggadaikan kepentingan umum atau masyarakat yang hidup dan menggantungkan hidupnya di wilayah Danau Poso.

Kasus ini juga, semoga menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat, pemerintah daerah juga pelaku bisnis agar lebih arif dan bijak menentukan kebijakan, memberikan keputusan serta menyetujui berbagai rencana pembangunan di wilayah ini tanpa perlu mengorbankan masyarakat juga lingkungan sekitar Danau Poso. Sehingga pesona Danau Poso tak meredup bahkan lenyap di Masa mendatang. *** 

Tuesday, October 22, 2013

FDP, Budaya Sebatas “Tontonan”


*Oleh : Wilianita Selviana
 
Sudah lama ingin bercuap-cuap tentang Festival ini, tapi baru saat ini benar-benar fokus menuangkannya lewat tulisan. Mungkin juga karena sebentar lagi festival ini segera terselenggara, saya akhirnya termotivasi untuk sedikit ‘mengomentarinya’.
Tak seperti tahun kemarin, pelaksanaan Festival Danau Poso (FDP) tahun 2013 ini maju sebulan lebih awal yaitu Bulan Oktober. Entah kendala apa sehingga penetapan waktu pelaksanaan tidak lagi konsisten, yang pasti setiap tahun festival ini diagendakan daerah. Tak semenarik dulu, event ini bukan lagi ajang berkumpul dan mempererat silahturahmi antar berbagai etnis/sub etnis di Sulawesi Tengah. Saat ini FDP hanya sebagai event “rutinitas” dari pemerintah daerah. Masyarakat lokalpun tidak lagi menjadi bagian penting dari kegiatan ini, selain sebagai pengisi acara pada ceremonial pembukaan dan penutupan atau sekedar diharuskan membersihkan pekarangan rumahnya untuk menimbulkan kesan baik bagi tamu-tamu yang akan datang berpartisipasi.
Ingatan saya kembali ke enam belas tahun lalu (sebelum konflik Poso terjadi), ketika itu FDP menjadi ajang yang paling dinanti-nantikan oleh semua orang terutama masyarakat lokal Tentena, Kabupaten Poso dan sekitarnya. Pagelaran budaya yang menampilkan drama musikal cerita rakyat dari berbagai perwakilan kabupaten yang hadir adalah acara favorit pengunjung lokasi FDP karena banyak legenda asal usul daerah diceritakan dalam pentas tersebut sehingga menambah pengetahuan budaya yang sangat  berharga bagi masyarakat.
Ketika itu cerita rakyat yang menarik perhatian saya adalah kisah ‘Torandaue’ yang berasal dari daerah Pamona dan mengisahkan legenda Danau Poso. Sebagai orang Poso, saya baru mengetahui cerita tersebut pada saat mengunjungi FDP dan menonton pagelaran yang dimaksud. Berbeda dengan beberapa tahun terakhir ini, pelaksanaan FDP pasca Konflik Poso seperti bergeser  dari nilai-nilai pelestarian budaya yang sesungguhnya. Belakangan ini, FDP Hanya sebatas menghadirkan tontonan yang bisa meramaikan susasana sekaligus menghibur. Saya semakin heran lagi, ketika tahu yang menjadi acara utama kegiatan ini adalah pemilihan Putra dan Putri Pariwisata yang kurang lebih sama seperti ajang pemilihan Abang None Jakarta, Cak Ning Surabaya yang juga banyak digelar di daerah lain, sayapun jadi bertanya-tanya apa istimewanya acara ini?
Sebelas duabelas dengan Danau Poso yang menjadi icon festival ini, tak lebih dari sekedar dicatut namanya saja. Bagaimana tdak, dari tahun ke tahun kondisi Danau Poso makin memprihatinkan. Danau yang terletak pada ketinggian 657 mdpl ini, merupakan salah satu Danau terindah di dunia dengan Pasir putih yang terdapat pada tepi sampai Dasar Danau, airnya bening dan pemandangan di sekitarnya sangat memikat. Tapi sampai hari ini tak satupun agenda Festival Danau Poso yang mengesankan upaya pelestarian Danau Poso, termasuk situs budaya Poso yang ada di sekitarnya seperti Watu mpangasa angga, Goa Pamona, Goa Latea, Taman Anggrek Bancea dan masih banyak lagi yang saat ini terancam hilang atau rusak karena tak terawat.
Fakta ini yang kemudian menjadi bahan obrolan saya dengan banyak kawan pemuda dan mahasiswa di seputaran Tentena, menurut mereka hal inilah yang menjadi salah satu pemicu generasi muda saat ini seperti kehilangan identitas, lebih jelasnya lagi kehilangan rasa kebanggaan atas daerahnya, tanah kelahirannya yang mungkin sebentar lagi tinggal sejarah. Karena ternyata bagi mereka, Budaya hanya sebatas Tontonan dan FDP membuktikannya. ###

*) penulis adalah ibu Rumah Tangga, masyarakat Tentena Kab. Poso

Friday, April 20, 2012

Earth Day, BBM dan Kartini


Terusik unek-unek Panji ‘the big picture’ yang ditulis di blognya http://www.pandji.com/bbm/ . Aku coba mengomentarinya dalam tulisan ini.

Soal BBM naik saya tidak setuju jika alasannya memudahkan pengalihan subsidi untuk pembangunan terutama perbaikan infrastruktur, pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Pertama, perbaikan infrastruktur jika si Panji itu hanya mengunjungi NTT sekali dan mampu mendapat gambaran tentang kondisi wilayah yang di’anaktirikan’ di negeri ini maka saat ini saya member gambaran lebih luas lagi dengan kondisi wilayah yang saya tinggali sejak lahir dan tak berbeda jauh seperti di NTT. Perbaikan infrastruktur yang setengah hati, jelas tak mendukung kemudahan aktivitas masyarakat di daerah ini. Dari Zaman Orla, Orba hingga Reformasi Kebablasan ini tak banyak yang berubah selain jumlah penduduk yang terus bertambah juga perilaku korup aparat Negara yang merajalela. Daerah yang terkenal sebagai zona konflik di pulau Sulawesi ini memang daerah yang jauh tertinggal dibanding wilayah Utara dan Selatan Sulawesi, saat inipun Gorontalo yang merupakan propinsi baru geliat berkembangnya sangat nampak semetara daerah yang saya tinggali ini seperti berlari di treatmill alias berlari-lari di tempat :D

Kembali ke soal infrastruktur, ada hal yang menarik disini ketika produksi Jagung di salah satu kabupaten melimpah namun terkendala mobilisasinya ke ibukota propinsi akibat kondisi jalan yang rusak dan memakan waktu tempuh yang cukup lama, kabupaten ini memilih memasarkan Jagungnya ke Gorontalo yang jika dikalkulasi secara ekonomi jauh lebih menguntungkan karena efisien dari segi waktu dan tenaga serta harga jualnya sebanding. Dan tak heran kemudian, Gorontalolah yang terkenal sebagai daerah penghasil Jagung bukan Sulawesi Tengah L
Jalan Trans Sulawesi Rusak Parah

Sekarang, mari bicara kenapa BBM naik tak berkorelasi langsung dengan perbaikan infrastruktur. Kalo BBM naik, secara otomatis harga barang juga pasti naik. Lihat saja, BBM belum naik harga barang sudah naik lebih dulu. Begitu pula dengan bahan bangunan, material untuk pembangunan infrastruktur juga pasti naik harganya dank arena perilaku korup di Negara ini udah membudaya bahkan menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan, dana untuk pembangunan infrastruktur tadi juga pasti akan dikorupsi dan hasilnya adalah infrastruktur abal-abal yang mulusnya cuma sekejap rusaknya bertahun-tahun sampai ada lagi alokasi dana untuk perbaikan infrastruktur. Contoh sederhana, jalur pantura yang diperbaiki setiap tahun menjelang mudik lebaran dengan anggaran mencapai 200milyar bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara di wilayah timur Indonesia, tak semudah itu melakukan perbaikan infrastruktur, kalo ada jalan trans yang terputus akibat tersapu banjir atau longsor pasti warga setempat yang berinisiatif lebih dulu mempebaiki jalan tersebut baru kemudian pemerintah daerah turun tangan beberapa bulan kemudian setelah ada anggaran perbaikan dicairkan jika tidak, maka jalan darurat ini akan terus seperti itu.

Sekarang bicara soal Pelayanan kesehatan, tak berbeda jauh dengan infrastruktur. Program jamkesmas, askeskin, de el el sampai saat ini tak dinikmati langsung oleh masyarakat kurang mampu di negeri ini karena ternyata pejabat hingga penjahat seperti ‘Malinda Dee’ menggunakannya juga untuk operasi radang payudaranya. Di daerah saya, gak usah ditanya yang bisa akses layanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah itu hanya orang-orang yang tabah mengurusi berbagai persyaratan administrasi dan jalur birokrasi yang ribetnya luar biasa alias selalu dipersulit dengan alasan itu sudah prosedurnya. Alhasil, si sakit harus merogoh koceknya dulu baru bisa mendapatkan layanan kesehatan.

Sektor Pendidikanpun tak mau kalah, coba cek bangunan sekolah di daerah saya berapa banyak yang layak dan yang tidak layak dijadikan tempat belajar mengajar perbandingannya 1:10. Selain itu listing penerima beasiswa di sekolah-sekolah pasti bukan golongan tidak mampu tetapi yang berprestasi sementara yang paling banyak berprestasi itu adalah anak-anak yang orangtuanya sanggup membelikan susu, makanan yang bergizi sehingga otaknyapun encer. Nah kalo BBM naik, boro-boro beli makanan bergizi buat beli beras aja susahnya minta ampun.

Berikutnya soal debat kusir para politisi atas kebijakan naiknya harga BBM, kalo naik turunnya harga BBM itu jadi komoditas politik semata ya jangan terjebak pada soal itu. Tetapi lebih melihat apa manfaatnya untuk rakyat jika BBM naik atau tidak, jika tidak bermanfaat dan justru lebih mencekik leher para rakyat ya sebaiknya ditolak kebijakan itu bukan karena alasan mendukung partai oposisi. Kalo alasannya soal subsidi, coba dicek dulu pengguna BBM bersubsidi paling besar di negara ini siapa? Rakyat menengah ke bawah, nah jika subsidinya dipangkas maka yang akan menjerit itu bukanlah pembuat kebijakan atau yang memangkas subsidi atau yang berdebat kusir soal kebijakan itu.

Nah, jika kenaikan BBM alasannya untuk pengembangan energy alternatif, pertanyaannya adalah sejauh mana ini efektif tanpa kebijakan pembatasan penggunaan BBM ataupun dengan pembatasan penggunaan BBM. Kalo BBM naik lalu ada pembatasan penggunaan BBM, sementara peralatan yang kita pake sehari-hari masih bergantung pada BBM itu ya sama saja nyuruh orang beli motor tapi harus jalan kaki:D  Akan tetapi pengembangan energy alternatif ini juga menarik jika diseriusi pemerintah yang tentu saja harus diikuti dengan alih teknologi agar dapat menungjang pemanfaatan energy alternatif tersebut. Yang jadi masalah, komitmen pengembangan energy alternatif itu hanya sebatas komitmen aplikasinya nol besar. Perbandingannya seperti kebijakan pengurangan emisi dengan menerbitkan inpres No.10 th.2011 tentang moratorium penebangan hutan sementara di saat yang bersamaan izin di sektor pertambangan dan perkebunan skala besar yang membuka kawasan hutan juga diterbitkan dengan alasan pembangunan ekonomi maka investasi harus tetap digenjot.

Kebetulan saat ini momen peringatan hari bumi atau Earth Day (22 April), energy alternatif memang pas dibicarakan sebagai bagian dari upaya menyayangi bumi yang kita tinggali ini. Sekilas mereview beberapa tahun lalu ketika seluruh dunia mulai dihebohkan dengan ancaman pemanasan global lalu perubahan iklim yang terjadi seketika itu juga semua orang mulai berbicara energy alternatif yang ramah lingkungan, semangat ‘go green’ mulai bermunculan begitu pula dengan biofuel, biodiesel, bioenergy mulai akrab terdengar di telinga. Namun belakangan surut karena harga energy alternatif ini sulit dijangkau dan semua orang masih menentukan pilihan pada energy fosil. Di negara penghasil energy seperti Indonesia inipun sulit menekan harga karena teknologinya masih tertinggal, padahal apa yang kita tidak miliki disini??? Ya, kita memiliki semuanya di negara yang kaya ini dari energy fosil hingga energy alternatif yang dapat diperbaharui itu kita miliki hanya saja kita tidak ber’HAK’ atasnya! Kenapa, karena semua sudah terjual, semua sudah tergadai. Blok Migas di Natuna, siapa yang menguasai? Blok Migas di Tiaka siapa yang menguasai? Blok Migas di Donggi Senoro siapa yang menguasai? Blok Migas di Surumana siapa yang menguasai? Jawabannya : Bukan Indonesia! Ironi bukan…L Ada yang cukup membuat iri dan harusnya pengambil kebijakan di negara ini resah, Blok Migas Donggi Senoro yang dikuasai Mitsubishi Jepang ternyata hasil produksinya mampu mengamankan pasokan energy negara matahari terbit itu sampai tahun 2022. Semetara Indonesia ?? justru mengalami krisis energy di seluruh wilayahnya dan entah kapan teratasi. Ya memang susah memprediksi kapan akan teratasi jika pemimpin negara ini selalu galau dan lebih sibuk membuat album..:p

Berhubung hari ini hari Kartini, saya coba menyinggung sedikit hubungan Earth Day, BBM dan Kartini. Di era yang katanya emansipasi ini, harusnya para Kartini-Kartini modern lebih peka pada soal-soal yang berhubungan dengan kepentingan rakyat banyak seperti polemik kebijakan naiknya harga BBM. Bukan hanya berlomba-lomba memenuhi kuota 30% perempuan di senayan, lalu jadi koruptor atau penonton atau bahkan sekedar pemanis ruang sidang. Juga tidak bangga hanya dengan kegiatan lomba masak-memasak pada peringatan hari Kartini atau fashion show yang lebih mengandalkan kecantikan tanpa isi kepala. Perempuan harus menjadi bagian penting dalam proses pengambilan kebijakan di negeri ini, karena jika BBM naik atau Bumi ini mengamuk alias terjadi bencana de es be… yang paling rentan menjadi korban adalah perempuan. Kartini modern tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan peka terhadap situasi di sekitarnya jika tidak seperti itu maka maka habis gelap, terangpun tak kunjung terbit.. :D

So, kenaikan harga BBM harusnya tidak terjadi sebelum negeri ini bersih dari koruptor, pengembangan energy alternatif serius dilakukan, proses alih technology telah disiapkan dan rakyatnya telah beradaptasi dengan baik, dan yang paling penting adalah negeri ini harus berdaulat atas sumber daya alamnya. Jika tidak seperti itu, maka BBM naik sama artinya dengan menggali kuburan sendiri. :)

Saturday, April 14, 2012

Biruku...


Awalnya aku hanya dimintai tolong oleh seorang penyuka warna Biru

Lalu akupun tertular menyukai warna Biru yang katanya symbol perdamaian itu

Lama kelamaan tak hanya sekedar suka pada warna Biru tapi resmi menjadi penganut warna Biru

Hampir semua hal yang kumiliki harus berwarna Biru, tepatnya wajib berwarna Biru..:)

Kalo orang kecanduan alkohol itu menjadi alcoholic, atau yang gila belanja itu menjadi shoppaholic, maka aku adalah seorang Biruholic..

Semua orang akhirnya mengenalku sebagai si penyuka warna Biru, bahkan ada yang menyebutku Peri Biru.. dan itu sebutan yang menarik kupikir sehingga blog ini kuberi nama Peri Biru

Tempat tinggalkupun kunamai sweety blue palace alias istana Biru yang cantik karena hampir semua isinya berwarna Biru

Hingga Biru itu seperti menggerogoti kewarasanku… melihat sesuatu tak lagi dari segi pantas atau layak atau cocok ataupun matching tetapi dari warnanya Biru atau bukan :D

subjektifku dengan warna Biru menjadi luar biasa!

Seperti memakai kacamata kuda, hidupku berada dalam satu warna saja.. warna Biru

Dan seseorang itu datang… menepuk jidatku, mengguncang dunia Biruku “hellooo… di dunia ini bukan hanya ada warna Biru…plis deh!” dan aku melongo! bengong! terperangah!.. ketemu orang yang tidak suka pada si ‘blue beauty’ (sebutan narsisku)

Lalu diajarinya aku mengenal kuning, merah, putih, hijau dan lain-lain selain Biru yang kuanut selama ini.

Hhhhmmm….

Ada yang berbeda, semangatku terpacu, adrenalinku terpompa, seperti terbangun dari tidur panjang… aku mulai melihat banyak hal dengan sudut pandang yang berbeda-beda tidak hanya Biru yang kulihat seperti sebelum-sebelumnya

Belakangan juga aku mulai kesal, Biru yang kuanut itu dijadikan symbol partai penguasa di negeriku. Sangat melecehkan warna Biru, perilaku si ‘penguasa’ tak mencerminkan karakter Biru sama sekali..

Dan Akupun bersyukur, seseorang itu datang melepas ‘kacamata kuda Biru’ yang kugunakan selama ini, meskipun tak berhenti menyukai warna Biru tetapi aku juga mulai menyukai warna lain selain Biru. Bukankah dunia ini penuh warna, sayang jika hanya terjebak pada satu warna saja.. aku belajar bijak karena Biruku 

Akhirnya, mengabadikan kecintaanku pada Biru dan harapan masa depan yang lebih baik dari saat ini, buah hatiku dengan seseorang itu kuberi nama Biru ‘Angkasa Biru Pradista’ agar besok dia tak hanya mengenal ibunya adalah seorang penyuka warna Biru tetapi juga dia tau namanya ada di langit yang cerah tanpa polusi udara, juga ada di laut yang teduh tanpa tailing, dan siapapun yang melihatnya akan merasa damai ;)



curcol 11/04/2012